Monday, 22 June 2015

Review Journal "Improving Performance, Perceived Usability, and Aesthetics with Culturally Adaptive User Interfaces"

Judul Asli           : Improving Performance, Perceived Usability, and Aesthetics with Culturally Adaptive User Interfaces
Penulis               : KATHARINA REINECKE and ABRAHAM BERNSTEIN
URL/doi             : 10.1145/1970378.1970382 http://doi.acm.org/10.1145/1970378.1970382
Pengkaji              : Aditya Raka Ghiffary / G24130067
Abstrak asli         :
With the exponentially growing number ofWebpages on the Internet, searching for the best information  increasingly becomes a search for the best information presentation. Many sites simply contradict one’s personal  understanding of “good design.” But even worse, bad design often goes hand in hand with bad usability. Such findings have led to a growing awareness that aesthetic design is a key component of usability [Hassenzahl 2004; Norman 2004], and a decisive aspect for marketplace success [Bloch 1995]. If neglected, many users rightly decide on another, more attractive and usable Website offering similar content [Lindgaard and Dudek 2003]. With this in mind, research has long discussed the magic formula for a “perfect design” and tried to define what is perceived as beautiful and usable.
To some extent, it seems that we can indeed generalize what users consider usable and attractive (e.g., when designing according to the laws of Gestalt Psychology). Some aspects, however, are certainly a matter of personal taste [Norman 2004], or strongly influenced by cultural values [Ito and Nakakoji 1996]. The same conventions apply to user interface preferences, which highly vary across cultures: Asian Websites, for instance, are commonly bright and colorful, with frequent animations that try to attract the user’s attention. Their high complexity is often perceived as information overload by Westerners, who prefer more structured content [Marcus and Gould 2001]. Asians, in contrast, have been shown to efficiently filter such dense information [Nisbett 2003].
Users also differ in their design preferences and in their perception of usability at the country level [Barber and Badre 1998; Callahan 2005]. The importance of considering such culturally determined partialities for a certain look & feel of user interfaces has been demonstrated numerous times. For example, interfaces designed for users from a specific country were perceived as much more attractive [Corbitt et al. 2002], and improved the work efficiency of those they were intended for [Badre 2000; Ford and Gelderblom 2003].
Thus, with the Internet being an increasingly global market place, it is unreasonable to design one common Website for everyone, and yet expect to attract an international audience. A more desirable solution would be to design many different versions of a Webpage in order to cater to users’ cultural preferences. Unfortunately, in this case, designers would soon experience the problem of scale due to the complex and intangible nature of cultural background.
To bridge this dichotomy between the need for Websites that cater for individual cultural backgrounds, and an inexpensive method to develop them, we have previously proposed an approach called cultural adaptivity [Reinecke and Bernstein 2007]. The idea is that Websites automatically compose personalized interfaces based on the
individual cultural backgrounds of its users.
We expect cultural adaptivity to improve the performance, as well as the user satisfaction of a personalized web site compared to a nonadapted version of the same site. 
We refer to performance as the objectivelymeasurablework efficiency, and to user satisfaction as an umbrella term for the users’ subjective perception of the interface, composed of their impressions of both usability, and aesthetics. According to ISO 9241-11 [1997], usability consists of effectiveness (e.g., a user’s ability to successfully find information and accomplish tasks on a Webpage), efficiency (he or she can do so in an adequate time frame without frustration), and satisfaction (whether the user enjoys using theWebsite).Note that rather than being three independentlymeasurable terms, these aspects of usability have been found to interact [Lindgaard and Dudek 2003]. The user’s judgement of his or her satisfaction, for instance, is thought to be influenced by the perceived usability (as denoted by the effectiveness and efficiency), but also by affective aspects, such as aesthetics [Lindgaard and Dudek 2003]. In the following, we use attractiveness, appeal, and beauty as synonyms for these affective aspects.
In an evaluation with 41 users of different cultural backgrounds, we demonstrate the benefit of our approach by showing that the majority preferred their culturally personalized interfaces over a nonadapted version. Moreover, our participants were able to work 22% faster with the culturally adapted interface, showing that our approach improves both the performance as well as the user satisfaction.
In the following, we first discuss the related work, before providing some background on our approach to cultural adaptivity in Section 3. Section 3.2 details the implementation of this approach in our culturally adaptive prototype, which was first introduced in [Reinecke and Bernstein 2009]. The experiment conducted with the system is described in the subsequent section, followed by a discussion of the implications of this approach
for international users.

Ulasan/Kajian      :
Performance adalah efisiensi kerja obyektif terukur dan user satisfaction sebagai istilah umum untuk persepsi subjektif user 'antarmuka, terdiri dari kesan mereka pada usability dan aesthetics.
Usability terdiri dari :
1.       effectiveness (misalnya, kemampuan user untuk berhasil menemukan informasi dan menyelesaikan tugas-tugas di halaman web),
2.       efficiency (user dapat melakukannya dalam jangka waktu yang cukup tanpa frustrasi),
3.       satisfaction (apakah user menikmati menggunakan Website).

Perancangan sistem yang secara otomatis menyesuaikan diri dengan latar belakang budaya user pertama membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang istilah budaya, dan dampaknya pada preferensi user interface.
Sementara budaya telah dijelaskan berkali-kali, antropolog budaya memiliki waktu yang lama untuk menyetujui bahwa istilah tersebut tidak dapat di definisikan secara terbatas. Oleh karena itu para peneliti sering menguraikan aspek yang mempengaruhi budaya yaitu identitas nasional seseorang yang lahir ke dalam, yang sering disetarakan dengan negara asalnya. Antropolog memiliki pemahaman yang lebih komprehensif, mereka membedakan antara "tempat," yang mengacu pada keberadaan seseorang saat ini berada, dan "ruang", yang menggambarkan afiliasi mental seseorang seperti dalam kasus ambiguitas budaya. Dengan demikian, hal ini tidak cukup untuk menyesuaikan interface ke negara asal user, karena praktek umum di lokalisasi. Sebaliknya, mungkin negara-negara bekas tempat tinggal dan perbedaan kebangsaan dari orang tua juga dapat mempengaruhi preferensi user interface, dan karena itu, harus diperhitungkan dalam pendekatan untuk adaptivitas budaya. Salah satu studi paling komprehensif terhadap klasifikasi tersebut adalah salah satu yang dilakukan oleh antropolog budaya Hofstede.

Ada banyak aspek dari budaya yang telah diketahui mempengaruhi interface preferences seperti penggunaan bahasa, agama, tingkat pendidikan, bentuk pendidikan. Faktor lainnya adalah norma-norma sosial dan politik, yang mempengaruhi apakah orang berpikir untuk diri sendiri, atau melihat diri mereka sebagai bagian dari kelompok.
Sementara aspek tersebut menggambarkan kemungkinan pengaruh pada budaya, antropologi telah menghindari mendefinisikan satu set terbatas pengaruh tersebut. Namun, dengan berbagai disiplin ilmu menyerukan kemungkinan untuk membandingkan negara dan budaya nasional mereka, beberapa peneliti telah berusaha untuk mendefinisikan apa yang disebut dimensi budaya.


Meskipun dimensi Hofstede ini telah sering dikritik karena generalisasi konsep beragam budaya, dan menguranginya ke kebangsaan, peneliti telah menerapkan dimensi dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari komunikasi interpersonal, dan interaksi manusia-komputer. Banyak pekerjaan telah diinvestasikan dalam membandingkan situs web dari berbagai negara dan menemukan hubungan antara desain dan dimensi budaya Hofstede. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensinya berdampak pada desain antarmuka user, dan dapat digunakan untuk menjelaskan perbedaan tata letak antara berbagai negara. Selain itu, temuan dari disiplin lain dapat ditafsirkan untuk mengungkapkan kebutuhan untuk interaksi dengan komputer. 

Tuesday, 9 June 2015

Help User Recognize, Diagnose, and Recover from Errors

Aplikasi ini memiliki pesan eror dan pesan solusi yang sudah baik, tetapi ketika solusi tersebut dijalankan pengguna tidak dapat mengetahui apakah solusi tersebut sudah dapat berhasil di bereskan atau belum karena tidak ada tanda tanda bahwa solusi tersebut berhasil atau tidak berhasil dilakukan.


Setelah di refresh tidak terlihat solusi berhasil atau tidak

Rekomendasi Perbaikan : solusi dibuat dengan lebih jelas lagi


Severity Rating : 1

User Control and Freedom

Musixmatch ini memiliki tombol option/properties dari lagu yang berada di kanan dan sangat dekat dengan scroll bar yang disembunyikan sehingga untuk menekan tombol tersebut sangat sulit untuk device yang berukuran kecil.



Playlist pada aplikasi ini harus dibuat dengan cara menambahkan lagu satu persatu ke dalam playlist. Hal ini cukup menyebalkan karena membutukan waktu yang lama untuk membuat playslist lagu. Playlist juga tidak dapat dibuat pada menu playlist dan hanya dapat dibuat dengan menekan tombol properties yang sulit ditekan dan tekan add to playlist, nanti akan ada pilihan untuk membuat playlist atau menambahkan ke playlist yang sudah ada.












Rekomendasi perbaikan : tambahkan option untuk membuat playlist pada menu playlist dan pada playlist itu dapat dipilih secara bebas dengan hanya satu kali klik( seperti checklist)

Help and Documentation

Help musixmatch hanya terdapat pada awal ketika baru mendownload aplikasi dan tidak dapat diulang kecuali mendownload ulang aplikasinya. Hal ini cukup menyulitkan pengguna karena tidak ada menu bantuan dan juga user harus mengingat bantuan di awal tersebut.dibawah ini adalah salah satu screenshot help yang kebetulan saya temukan di fungsi search.


Rekomendasi perbaikan : tambahkan menu bantuan, karena untuk pengguna awam akan sulit menjalankan aplikasinya.


Severity rating : 2

Consistency and Standard

Bahasa yang digunakan dalam aplikasi musixmatch sudah baik, tetapi terkadang ada kata-kata yang membingungkan yang mungkin menarik untuk sebagian orang seperti ”lady gaga is borrowed our lyric and is using them as hat” yang maksudnya adalah lirik tersebut tidak ada.


Pada bagian search kata-katanya tidak selesai, dan membingungkan pengguna apa yang dimaksud dengan “l…”. Tetapi di bawahnya dijelaskan “search any lyrics in the world’s largest lyrics catalog”.

Rekomendasi perbaikan : ubah kata-kata lirik yang tidak ada dengan kata yang lebih gampang dipahami


Severity rating : 1

Visibility of System Status - Musixmatch

Musixmatch memiliki menu yang dapat dilihat ketika men-scroll ke bawah sehingga pengguna dapat melihat dengan jelas sedang berada dalam menu apa dan disembunyikan ketika menscroll ke atas. Ketika di-scroll ke atas, maka akan terlihat lagu apa yang sedang dimainkan dan juga durasi dari lagu tersebut dengan garis merah tipis diatas judul lagunya.



Terkadang trobber ketika sedang menunggu lirik lagu tidak muncul dan tiba-tiba saja beberapa saat kemudian muncul liriknya sehingga terkadang pengguna bingung apakah lagu tersebut ada liriknya atau tidak.



Rekomendasi perbaikan : trobber ketika sedang menunggu lirik lagu harus diperbaiki lagi.

Severy rating : 0

Wednesday, 27 May 2015

Tutorial Pengukuran Bobot Tanaman

Berikut adalah cara yang dapat dilakukan untuk mengukur berat/bobot tanaman :

Cabut tanaman dari media


Lakukan destuktif untuk tiap bagian tanaman. Pisahkan akar, batang, dan daun.
 

Timbang bobot basah masing-masing bagian tanaman


 Masukkan tanaman yang telah di destruktif ke dalam oven 110 C.



 Setelah 8 jam, keluarkan bagian tanaman dari oven kemudian timbang bobot keringnya.




 ~Kelompok13 AGROMET 2015 GFM50